prosesi siraman putri bungsu Sri Sultan HamengkuBuwonoX

Putri Keraton Yogyakarta, GKR Bendara, hari ini Senin (17/10/2011) melaksanakan prosesi siraman, sebagai rangkaian upacara pernikahan agung.

Tepat pukul 09.30 WIB, Jeng Reni sapaan akrab GKR Bendara ini masuk ke dalam bangsal Sekar Kedaton, ditemani dengan ibunda GKR Hemas, dan keempat kakak-kakaknya. Sementara memasuki ruangan, para tamu undangan diantaranya pengusaha Yogya, seperti Ibu Suharti, Ibu Lilis Hawati, dan juga beberapa sosialita Yogya, tampak hadir dengan mengenakan kebaya model kartini dan jarik motif Yogya, serta dirias dengan model gelung tekuk.

GKR Hemas memimpin upcara siraman yang berlangsung di depan pendopo Keputren. Ruangan siraman diberi melati ronceng dan bunga sedap malam.

Sebagai penyiram pertama adalah GKR Hemas, kemudian urutannya antara lain ada GBRAy Murdokusumo, BRA Puruboro, dan Nyai Kanjeng Raden Penghulu Dipodiningrat, selain itu perias manten Tienuk Rifki dan Hj Woro Hastuti, seorang ahli spa dan kecantikan gaya Yogya juga tampak ikut prosesi siraman.

“Suasana khidmat dan sangat sakral. Hampir tidak ada kesalahan, 80 persen berjalan lancar. Bahkan tadi saya perhatikan para tamu yang tidak pernah mengikuti tradisi keraton juga tertib mengikuti prosesi,” ujar Woro kepada wartawan, usai prosesi siraman.

Prosesi siraman berlangsung sampai pukul 10.30 WIB, dan dilanjutkan prosesi siraman manten kakung, di bangsal Ksatriyan.

Dipublikasi di Uncategorized | 3 Komentar

angkringan jogja,,,, solusi tepat bwt anak kost,,,

Angkringan adalah semacam warung makan yang berupa gerobag kayu yang ditutupi dengan kain terpal plastik dengan warna khas, biru atau oranye menyolok. Dengan kapasitas sekitar 8 orang pembeli, angkringan beroperasi mulai sore hari sampai dini hari. Namun kini ada juga yang mulai buka siang hari. Pada malam hari, angkringan mengandalkan penerangan tradisional senthir dibantu terangnya lampu jalan.

Makanan khas yang dijual meliputi nasi kucing, gorengan, sate usus (ayam), sate telor puyuh, kripik dan lain-lain. Nasi kucing (dalam bahasa Jawa disebut “sega kucing“) bukanlah suatu menu tertentu, tetapi lebih pada cara penyajian nasi bungkus yang banyak ditemukan pada angkringan. Dinamakan “nasi kucing” karena disajikan dalam porsi yang (sangat) sedikit, seperti menu untuk pakan kucing. Bagi kaum laki-laki mungkin bisa menghabiskan 3-5 bungkus. Saya saja yang perempuan, pernah menghabiskan 4 bungkus. Entah karena nasinya memang enak atau saya yang doyan makan, saya sendiri bingung. Minuman yang dijual pun beraneka macam seperti teh, es jeruk, kopi, wedang tape, wedang jahe, susu, atau campuran beberapa yang anda suka. Semua dijual dengan harga yang sangat terjangkau. Tapi sekarang kalau dirasa-rasa, harga hidangan angkringan ikut melambung gara-gara kenaikan harga BBM 24 Mei 2008 lalu. Tetapi teap saja angkringan banyak penggemar.

Mungkin hampir setiap 100 meteran, kita dapat menemukan angkringan. Bagaimana awalnya usaha ini bisa begitu menjamur di Jogja? Sebagai mahasiswa yang cukup hobi ngangkring, saya kerap mengobrol dengan pedagangnya setiap kali ngangkring. Ternyata setiap kali saya tanya “Pak njenengan asline king pundi?”, jawabannya hampir selalu sama, “Kula king Klaten, Mbak”. Pedagang angkringan di Jalan Herman Yohanes tempat saya biasa membeli jasu (jahe susu) pernah saya tanya, “Wis suwe po Mas bukak angkringan?”, dan dia menjawab, “Lha wong mbahku wae bukak angkringan kok, Mbak”. Sebenarnya sejak kapan angkringan muncul di Jogja?

Sejarah angkringan di Jogja merupakan sebuah romantisme perjuangan menaklukan kemiskinan. Angkringan di Jogjakarta dipelopori oleh seorang pendatang dari Cawas, Klaten bernama Mbah Pairo pada tahun 1950-an. Cawas yang secara adminstratif termasuk wilayah Klaten Jawa Tengah merupakan daerah tandus terutama di musim kemarau. Tidak adanya lahan subur yang bisa diandalkan untuk menyambung hidup, membuat Mbah Pairo mengadu nasib ke kota. Ya, ke sini, ke Jogjakarta.

Mbah Pairo bisa disebut pionir angkringan di Jogjakarta. Usaha angkringan Mbah Pairo ini kemudian diwarisi oleh Lik Man, putra Mbah Pairo sekitar tahun 1969. Lik Man yang kini menempati sebelah utara Stasiun Tugu sempat beberapa kali berpindah lokasi. Seiring bergulirnya waktu, lambat laun bisnis ini kemudian menjamur hingga pada saat ini sangat mudah menemukan angkringan di setiap sudut Kota Jogja. Angkringan Lik Man pun konon menjadi yang paling dikenal di seluruh Jogja, bahkan di luar Jogja.

Berbeda dengan angkringan saat ini yang memakai gerobak, diawal kemunculannya angkringan menggunakan pikulan sebagai alat sekaligus center of interest. Bertempat di emplasemen Stasiun Tugu Mbah Pairo menggelar dagangannya. Pada masa Mbah Pairo berjualan, angkringan dikenal dengan sebutan ting-ting hik (baca: hek). Hal ini disebabkan karena penjualnya berteriak “Hiiik…iyeek” ketika menjajakan dagangan mereka. Istilah hik sering diartikan sebagai Hidangan Istimewa Kampung. Sebutan hik sendiri masih ditemui di Solo hingga saat ini, tetapi untuk di Jogja istilah angkringan lebih populer. Demikian sejarah angkringan di Jogjakarta bermula.

Boleh jadi angkringan merupakan stereotipe kaum marjinal berkantung cekak yang beranggotakan sebagian mahasiswa, tukang becak dan buruh maupun karyawan kelas bawah. Namun, peminat angkringan kini bukan lagi kaum marjinal yang sedang dilanda kesulitan keuangan saja, tetapi juga orang berduit yang bisa makan lebih mewah di restoran.

Dari semua angkringan yang pernah saya coba, saya jatuh cinta pada jadah bakar dan teh nasgitel (panas, legi, kentel) racikan Lik Man, angkringan legendaris Jogja. tidak jarang warung angkring Lik Man kedatangan orang-orang terkenal dari berbagai jenis pekerjaan. Djadug Feriyanto misalnya, kakak kandung Butet Kartaradjasa yang juga leader kelompok musik Sinten Remen ini pun jatuh cinta kepada angkringan Lik Man di Stasiun Tugu sana. Tidak hanya Djadug, beberapa sastrawan, budayawan, atau olahragawan ternama seperti Cak Nun (Emha Ainun Najib), Butet Kartaradjasa, Marwoto Kawer hingga Jammie Sandoval pemain PSIM asal Chilie pun sering meluangkan waktu malamnya untuk jajan di angkringan. Menyenangkan sekali melepas kepenatan bersama teman atau orang lain yang baru ketemu disana, lalu ngobrol ngalor-ngidul, gojeg kere, main plesetan kata-kata, menggoda bencong lewat, sampai tertawa lepas melepaskan beban pikiran. Tak perlu minder dengan apa status anda, karena di angkringan semuanya adalah sama

Dipublikasi di Uncategorized | Meninggalkan komentar

gudeg,,,, makanan asli jogja…


Bahan :

  1. 500 gr nangka muda
  2. 500 gr tulang sapi berdaging & 350 gr ayam bertulang. Kalau resep ibunda miss Arry pakai ceker ayam. Kalau gw bikin kemaren ini malah gak pake apa2. (lha wong gak beli )
  3. daun salam, lebih banyak lebih ok katanya. (bw yg tinggal di Indo, karena di pattaya yah gw pakainya rada irit dong)
  4. santan, pokoknya sampai si gudeg di panci terendam. Ingat kolestrol !! ( kalau gw sih campur sama air, sstt..jangan ketahuan miss Arry )
  5. telor rebus, kupas.

Bumbu halus :

  • 18 butir bw merah
  • 6 siung bw putih
  • 3 sdt tumbar bubuk
  • 2 sdm lengkuas cincang
  • 200 gr gula jawa
  • garam dan gula pasir
  • 40 gr asam jawa

Dir :

cemplung semua bahan di panci kecuali telur. Masak sampai mendidih, aduk2. Kecilkan api, masak terus nggak boleh diaduk sampai kuah habis trus warnanya coklat tua gelap. Oh ya sebelum kuah hampir habis masukkan telor rebus.

Dipublikasi di Uncategorized | 2 Komentar

fioto- foto festival adat se jogja

Dipublikasi di Uncategorized | 5 Komentar

Meriahnya Festival Bentara Adat Se-Jogjakarta 2011

Kemarin, tepatnya Minggu 17 Juli 2011 digelar Festival Bentara Adat Se-Jogja didepan keraton alias dialun-alun utara. Seperti apa Meriahnya Festival Bentara Adat Se-Jogjakarta 2011? Berikut adalah liputan seputar Meriahnya Festival Bentara Adat Se-Jogjakarta 2011 yang dikemas dalam “Ketak-Ketik Ide Sederhana” dari awal sampai habis manis sepah dibuang. Festival Bentara Adat adalah sebuah pertunjukan upacara adat yang diikuti oleh masing-masing kabupaten se DIY, diantaranya dari Gunung Kidul, Bantul, Sleman, Kulonprogo dan kota Jogjakarta. Kelima kelompok bentara upacara adat dari masing-masing daerah tersebut memperlihatkan keunikannya masing-masing, dengan menunjukkan tarian dan gerakan ritualistik di depan Pagelaran Keraton Yogyakarta. Masing-masing kelompok mempertunjukan aksinya selama 30 menit.

Dipublikasi di Uncategorized | Meninggalkan komentar

Hello world!

Welcome to WordPress.com. After you read this, you should delete and write your own post, with a new title above. Or hit Add New on the left (of the admin dashboard) to start a fresh post.

Here are some suggestions for your first post.

  1. You can find new ideas for what to blog about by reading the Daily Post.
  2. Add PressThis to your browser. It creates a new blog post for you about any interesting  page you read on the web.
  3. Make some changes to this page, and then hit preview on the right. You can always preview any post or edit it before you share it to the world.
Dipublikasi di Uncategorized | 1 Komentar